Ki Hajar Dewantara: Bangsawan yang Memilih Jadi Guru Bangsa

Daftar Isi
Ki Hadjar Dewantara sedang berpidato

Ki Hadjar Dewantara. Sumber: domain publik, via Wikimedia Commons

Tiap tanggal 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal itu bukan dipilih acak — itu hari lahir seorang bangsawan Yogyakarta yang memilih meninggalkan kenyamanan gelarnya demi satu keyakinan: bangsa yang terdidik nggak akan bisa dijajah selamanya. Namanya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat — yang kelak kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara.

Tulisan yang Mengguncang Penjajah

Tahun 1913, pemerintah kolonial berencana merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda — dengan dana yang dipungut dari rakyat jajahan. Soewardi muda menulis sindiran legendaris berjudul "Als ik een Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda): betapa nggak tahu dirinya merayakan kemerdekaan di atas tanah bangsa yang dirampas kemerdekaannya, pakai uang rakyat yang dijajah pula.

Tulisan itu bikin geger. Bersama dua sahabatnya — Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, "Tiga Serangkai" — dia dibuang ke Belanda. Tapi pembuangan itu justru jadi berkah: di sana dia mendalami ilmu pendidikan, dan mendirikan Indonesisch Pers-bureau — salah satu pemakaian paling awal nama "Indonesia" oleh kaum pergerakan.

Taman Siswa: Perlawanan Lewat Ruang Kelas

Pulang ke tanah air, dia memilih medan juang yang nggak biasa: sekolah. Tahun 1922 di Yogyakarta, dia mendirikan Taman Siswa — perguruan untuk anak-anak pribumi dari segala kalangan, di zaman ketika pendidikan layak cuma buat anak Eropa dan kaum bangsawan. Gelar kebangsawanannya dia tanggalkan, berganti nama Ki Hajar Dewantara, biar bisa berdiri sama rendah dengan rakyat yang dididiknya.

Dari Taman Siswa lahir filosofi pendidikan yang sampai sekarang jadi jiwa guru Indonesia: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani — di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Satu kalimat itu bahkan diabadikan di logo Kementerian Pendidikan sampai hari ini.

Menteri Pendidikan Pertama

Ketika Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara dipercaya menjadi Menteri Pengajaran pertama republik ini. Perjalanan hidupnya lengkap: dari jurnalis pemberani, orang buangan, pendiri sekolah, sampai peletak dasar sistem pendidikan nasional. Dia wafat pada 1959, dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional — dengan hari lahirnya, 2 Mei, dijadikan Hari Pendidikan Nasional.

Warisan yang Kita Rasakan Tiap Hari

Pelajaran dari hidupnya relevan buat siapa pun: kemuliaan bukan pada gelar, tapi pada manfaat. Dia lahir dengan segala kemudahan, dan memilih jalan yang berat — mengangkat orang lain lewat ilmu. Persis seperti yang diajarkan agama: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, dan ilmu yang diajarkan adalah amal yang nggak putus-putus pahalanya.

Baca juga: Asal-Usul Nama "Indonesia" — peran Ki Hajar Dewantara memakai nama Indonesia. Ikuti rubrik Tokoh di Indonesia Banget.

Posting Komentar