Asal-Usul Nama "Indonesia": Siapa yang Pertama Kali Nyebut?

Ki Hadjar Dewantara, salah satu tokoh pergerakan pertama yang memakai nama "Indonesia". Foto: Mimbar Umum (1949), domain publik, via Wikimedia Commons
Tiap hari kita nyebut kata "Indonesia" — di lagu kebangsaan, di KTP, di bio Instagram. Tapi pernah nggak sih kepikiran: nama ini datangnya dari mana? Jawabannya mungkin bikin kaget — nama "Indonesia" nggak lahir dari lidah nenek moyang kita sendiri, tapi dari halaman jurnal ilmiah di Singapura, tahun 1850.
Sebelum Ada "Indonesia"
Jauh sebelum nama ini ada, kepulauan kita udah punya banyak sebutan. Orang Majapahit menyebut gugusan pulau di luar Jawa dengan istilah Nusantara — dari kata nusa (pulau) dan antara (luar/seberang). Penjajah Belanda menyebut wilayah ini Nederlandsch-Indië alias Hindia Belanda. Sementara Multatuli, penulis Belanda yang mengkritik praktik kolonialisme, memperkenalkan nama puitis Insulinde, "kepulauan Hindia".
Lahir di Jurnal Ilmiah, Tahun 1850
Nama "Indonesia" pertama kali muncul di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), jurnal ilmiah yang terbit di Singapura. Tahun 1850, etnolog Inggris bernama George Samuel Windsor Earl mengusulkan istilah Indunesians buat menyebut penduduk kepulauan ini — gabungan dari kata Yunani Indos (Hindia) dan nesos (pulau). Lucunya, Earl sendiri malah lebih suka istilah lain: Malayunesians.
Yang konsisten memakai kata Indonesia justru rekannya, James Richardson Logan, pengelola jurnal itu. Logan mengubah huruf u jadi o biar lebih enak diucapkan, lalu memakai istilah "Indonesia" di tulisan-tulisannya buat menyebut kepulauan Hindia. Dari sinilah nama itu resmi punya akta kelahiran.
Dipopulerkan Ilmuwan Jerman
Nama ini sempat cuma jadi istilah teknis di kalangan terbatas. Baru pada 1884, etnograf Jerman Adolf Bastian menerbitkan buku berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels. Lewat karya Bastian inilah istilah "Indonesia" menyebar luas di kalangan ilmuwan Eropa — sampai banyak orang sempat mengira dialah penciptanya.
Direbut Jadi Nama Perjuangan
Bagian paling kerennya justru di sini. Nama yang lahir dari jurnal asing itu kemudian diambil alih oleh kaum pergerakan dan diisi makna baru: identitas sebuah bangsa yang mau merdeka.
Tahun 1913, Suwardi Suryaningrat — yang kelak kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara — mendirikan biro pers di Belanda dengan nama Indonesisch Pers-bureau. Ini salah satu momen awal orang pergerakan memakai kata "Indonesia" sebagai pernyataan sikap: kami bukan "Hindia Belanda". Organisasi pelajar di Belanda pun berganti nama jadi Perhimpunan Indonesia, dan puncaknya, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.
Nama Pinjaman yang Jadi Milik Sendiri
Jadi kalau dipikir-pikir, "Indonesia" itu nama pemberian orang luar yang direbut, dimaknai ulang, dan diperjuangkan sampai jadi milik kita sepenuhnya. Para pendiri bangsa nggak mempermasalahkan siapa penciptanya — mereka mengisinya dengan darah, keringat, dan cita-cita. Nama boleh lahir di jurnal Singapura, tapi jiwanya lahir di sini.
Suka cerita begini? Ikuti terus rubrik Asal-Usul di Indonesia Banget, dan baca juga seri Kronologis Menuju Titik 0 Indonesia Merdeka.
Posting Komentar