Si Pitung: Robin Hood Betawi dari Rawa Belong
Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara. Foto: Olobaho, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Kalau Inggris punya Robin Hood, Betawi punya Si Pitung. Bedanya satu: Pitung bukan sekadar dongeng — dia tokoh yang dipercaya benar-benar hidup di Batavia akhir abad ke-19, dan kisahnya masih hidup di lenong, film, sampai nama rumah bersejarah di Marunda.
Pemuda Saleh dari Rawa Belong
Pitung dikisahkan lahir di Rawa Belong, kawasan Kebayoran, dari keluarga Betawi sederhana. Sejak kecil dia belajar mengaji dan silat — dua hal yang kelak jadi ciri khasnya: jago berkelahi, tapi teguh memegang ajaran agama. Dari gurunya, dia konon mewarisi ilmu yang bikin tubuhnya sulit ditembus senjata, yang membuat namanya ditakuti sekaligus dikagumi.
Merampok yang Serakah, Membagi ke yang Susah
Zaman itu, rakyat kecil Batavia hidup tertekan: pajak mencekik, tanah dikuasai tuan tanah, dan centeng-centeng bertindak semena-mena. Pitung dan kelompoknya memilih jalan yang berani: merampok para tuan tanah kaya dan orang-orang yang dianggap menindas — lalu membagikan hasilnya ke rakyat miskin.
Buat pemerintah kolonial, dia penjahat dan buronan nomor satu. Tapi buat rakyat kecil, Pitung adalah jagoan pembela wong cilik. Rakyat melindunginya: memberi tempat sembunyi, menolak buka mulut ke kompeni. Semakin diburu, semakin melegenda.
Peluru Emas di Ujung Cerita
Kompeni kehabisan akal menghadapi Pitung yang licin dan konon kebal. Menurut cerita rakyat, polisi Belanda — dipimpin schout van Hinne yang terobsesi menangkapnya — akhirnya menemukan "kelemahan" sang jagoan lewat pengkhianatan orang dekat. Dalam banyak versi disebutkan Pitung baru bisa ditumbangkan dengan peluru emas. Dia gugur muda, tapi justru sejak itu namanya nggak pernah mati.
Dari Marunda sampai Layar Lebar
Warisannya masih bisa lo datangi: Rumah Si Pitung di Marunda, rumah panggung khas pesisir Betawi yang kini jadi cagar budaya — konon salah satu tempat yang pernah disinggahinya. Kisahnya diangkat ke lenong, sinetron, dan film layar lebar; namanya jadi simbol jagoan Betawi sejati: berani sama yang di atas, welas asih sama yang di bawah.
Sejarawan boleh berdebat soal mana fakta mana bumbu. Tapi satu hal jelas: Si Pitung lahir dari kerinduan rakyat kecil akan keadilan — dan kerinduan itu, sampai hari ini, belum pernah basi.
Ikuti rubrik Cerita Rakyat di Indonesia Banget buat legenda nusantara lainnya.
Posting Komentar