Pela Gandong: Ikatan Saudara Lintas Agama dari Maluku
Perahu nelayan di Tulehu, Maluku. Foto: Trifosa18, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Bayangin dua kampung: yang satu warganya Muslim, yang satu Kristen. Bukannya saling curiga, mereka justru menyebut satu sama lain saudara kandung — saling membangun masjid dan gereja, pantang saling menyakiti, bahkan dilarang saling menikah karena dianggap sedarah. Itulah pela gandong, kearifan Maluku yang mungkin paling dibutuhkan Indonesia hari ini.
Apa Itu Pela dan Gandong?
Pela adalah ikatan persaudaraan yang diikrarkan antara dua negeri (kampung) atau lebih di Maluku — lahir dari sejarah bersama: sumpah para leluhur selepas perang, saling menolong di masa sulit, atau peristiwa penting lain yang mengikat. Sedangkan gandong berakar dari kata "kandung": ikatan antarnegeri yang diyakini berasal dari satu garis keturunan yang sama, meski kini kampungnya berbeda pulau bahkan berbeda agama.
Sekali diikat, hubungan itu berlaku turun-temurun. Warga negeri yang berpela wajib saling menolong tanpa diminta — dalam membangun rumah ibadah, sekolah, hajatan, sampai musibah. Menolak membantu saudara pela dianggap pelanggaran adat yang serius.
Diuji Api, Tetap Bertahan
Kearifan ini pernah melewati ujian paling berat: konflik komunal Maluku di akhir 1990-an yang memilukan. Justru di masa itulah nilai pela gandong terlihat kekuatannya — banyak kisah warga yang melindungi saudara pela-nya yang berbeda agama, menyembunyikan mereka dari amuk massa, mengantarkan makanan diam-diam melewati garis konflik. Dan ketika perdamaian dirajut kembali, pela gandong jadi salah satu fondasi rekonsiliasi: orang Maluku menyebutnya hidup orang basudara — hidup sebagai saudara.
Panas Pela: Memperbarui Sumpah
Ikatan ini nggak dibiarkan dingin. Secara berkala, negeri-negeri yang berpela menggelar upacara panas pela — "memanaskan" kembali sumpah leluhur lewat pertemuan besar, arak-arakan, makan bersama, dan ikrar ulang. Generasi muda diperkenalkan pada saudara-saudaranya, supaya ikatan yang diikat nenek moyang nggak putus di tangan cucu.
Pelajaran buat Kita Semua
Di negeri yang gampang banget dipanas-panasi isu SARA, pela gandong adalah bukti hidup bahwa persaudaraan bisa lebih kuat dari perbedaan iman — asal dia dirawat, diikrarkan, dan diwariskan dengan sengaja. Kerukunan itu bukan kebetulan; dia tradisi yang dikerjakan. Maluku sudah membuktikannya ratusan tahun.
Ikuti rubrik Kearifan Lokal di Indonesia Banget buat filosofi dan tradisi nusantara lainnya.
Posting Komentar