Pangeran Diponegoro: Pangeran Bersorban yang Bikin Belanda Nyaris Bangkrut

Daftar Isi
Penangkapan Pangeran Diponegoro, lukisan Raden Saleh

Penangkapan Pangeran Diponegoro, lukisan Raden Saleh (1857). Sumber: domain publik, via Wikimedia Commons

Perang paling besar dan paling mahal yang pernah dihadapi Belanda di tanah Jawa bukan dipimpin jenderal berseragam — tapi seorang pangeran bersorban putih yang memilih hidup dekat rakyat dan ulama: Pangeran Diponegoro.

Pangeran yang Memilih Pesantren

Lahir di Yogyakarta, 11 November 1785, dengan nama Raden Mas Ontowiryo, dia sebenarnya putra sulung Sultan Hamengkubuwono III. Tapi Diponegoro memilih tinggal di Tegalrejo bersama nenek buyutnya, jauh dari gemerlap keraton — dekat dengan petani, santri, dan para kiai. Dia lebih nyaman mengaji dan mendalami agama daripada berebut kuasa. Justru pilihan hidup ini yang bikin dia dicintai rakyat.

Perang Jawa: Lima Tahun yang Mengguncang

Kesabarannya habis ketika Belanda makin dalam mencampuri urusan keraton dan menyengsarakan rakyat dengan pajak. Puncaknya tahun 1825: Belanda memasang patok jalan menembus tanah leluhurnya di Tegalrejo tanpa izin. Meletuslah Perang Jawa (1825–1830). Dengan dukungan para ulama — termasuk Kiai Mojo — serta bangsawan seperti Sentot Alibasah Prawirodirjo, Diponegoro menggerakkan perang gerilya raksasa. Rakyat menyebutnya perang sabil, perjuangan membela agama dan tanah air. Belanda kewalahan bertahun-tahun; ratusan ribu nyawa melayang, dan kas Hindia Belanda nyaris bangkrut.

Ditangkap Lewat Tipu Muslihat

Nggak sanggup menang di medan perang, Belanda pakai cara licik. Maret 1830, Diponegoro diundang berunding di Magelang dengan jaminan keamanan. Janji itu dikhianati: dia ditangkap, lalu diasingkan ke Manado dan kemudian Makassar. Momen pengkhianatan ini diabadikan pelukis Raden Saleh dalam lukisan legendaris — dengan wajah-wajah Belanda sengaja dilukis kaku, sebagai sindiran halus. Diponegoro wafat di Benteng Rotterdam, Makassar, 8 Januari 1855, dalam usia 69 tahun — tetap teguh, tetap bersorban.

Warisan Sang Pangeran

Di pengasingan dia menulis Babad Diponegoro — otobiografi ribuan halaman yang kini diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Tahun 1973 dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Dari Diponegoro kita belajar: kemuliaan bukan pada takhta, tapi pada keberpihakan — dan janji itu suci; mengkhianatinya adalah aib yang dicatat sejarah selamanya.

Ikuti rubrik Tokoh di Indonesia Banget untuk kisah pahlawan lainnya.

Posting Komentar