Mohammad Hatta: Proklamator Sederhana yang Nggak Kesampaian Beli Sepatu Bally
Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama RI. Sumber: domain publik, via Wikimedia Commons
Di samping Soekarno yang berapi-api, ada sosok tenang berkacamata yang jadi penyeimbangnya: Mohammad Hatta. Bung Hatta bukan orator panggung — dia pemikir, organisator, dan teladan hidup sederhana yang nyaris nggak ada tandingannya di kalangan pejabat negeri ini.
Anak Minang yang Tertib Luar Biasa
Lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902, Hatta tumbuh di keluarga Minang yang religius — kakeknya ulama tarekat yang disegani. Dari kecil hidupnya tertib: shalat, mengaji, sekolah, olahraga, semua terjadwal. Kedisiplinan ini kebawa sampai tua — konon orang bisa mencocokkan jam dari rutinitas hariannya. Otaknya encer: dia melanjutkan studi ekonomi ke Rotterdam, Belanda, dan di sana aktif memimpin Perhimpoenan Indonesia, organisasi mahasiswa yang berani menyuarakan kemerdekaan dari jantung negeri penjajah.
Dipenjara dan Dibuang
Aktivismenya bikin Belanda gerah. Hatta sempat ditangkap dan diadili di Den Haag — pidato pembelaannya, Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka), jadi dokumen sejarah yang legendaris. Pulang ke tanah air, dia terus bergerak dan akhirnya dibuang ke Boven Digoel, lalu ke Banda Neira. Di pengasingan pun dia nggak berhenti: membawa berpeti-peti buku dan mengajar anak-anak setempat. Baginya, buku adalah teman setia — "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas."
Proklamator dan Bapak Koperasi
Tanggal 17 Agustus 1945, bersama Soekarno, Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia — namanya abadi sebagai dwitunggal proklamator. Sebagai Wakil Presiden pertama, dia meletakkan dasar ekonomi kerakyatan: koperasi, ekonomi gotong royong yang berpihak pada rakyat kecil, sampai dia dijuluki Bapak Koperasi Indonesia. Tahun 1956 dia mundur dari kursi wapres karena berbeda prinsip — bukti integritasnya: jabatan bukan segalanya.
Sederhana Sampai Akhir
Ini bagian yang paling bikin merinding: sampai wafat 14 Maret 1980, Bung Hatta nggak pernah mampu membeli sepatu Bally yang dia idam-idamkan — guntingan iklannya disimpan bertahun-tahun di dompet. Mantan wakil presiden, hidup dari pensiun, jujur sampai akhir. Dari Bung Hatta kita belajar: kejujuran dan hidup sederhana bukan kelemahan, tapi kehormatan — dan amanah jabatan itu titipan yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Ikuti rubrik Tokoh di Indonesia Banget untuk kisah pahlawan lainnya.
Posting Komentar