Legenda Sangkuriang: Cinta Terlarang di Balik Gunung Tangkuban Perahu
Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Perahu. Foto: DimasSepur, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Coba perhatiin Gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan: bentuknya memang mirip perahu yang telungkup. Buat orang Sunda, bentuk itu bukan kebetulan — itu bekas amukan seorang anak bernama Sangkuriang, dalam salah satu legenda paling terkenal se-nusantara.
Dayang Sumbi dan Si Tumang
Alkisah hiduplah seorang putri jelita bernama Dayang Sumbi yang tinggal menyepi di hutan ditemani seekor anjing setia bernama Tumang — yang sebenarnya adalah titisan dewa. Singkat cerita, Dayang Sumbi menikah dengan Tumang dan lahirlah seorang anak laki-laki gagah: Sangkuriang. Sang anak nggak pernah tahu siapa ayahnya sebenarnya.
Suatu hari, Sangkuriang berburu ditemani Tumang. Karena buruan tak kunjung dapat, dalam kekesalannya Sangkuriang membunuh Tumang — anjing yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Mengetahui itu, Dayang Sumbi murka dan memukul kepala Sangkuriang sampai terluka. Sang anak pun pergi merantau dengan hati hancur.
Pertemuan yang Salah
Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang yang sudah dewasa dan sakti kembali ke tanah kelahirannya. Di sana dia bertemu perempuan cantik dan jatuh cinta — tanpa tahu bahwa perempuan itu adalah Dayang Sumbi, ibunya sendiri, yang dianugerahi kecantikan abadi. Dayang Sumbi baru sadar ketika melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Panik, dia mencari cara menggagalkan pernikahan itu.
Syarat yang Mustahil
Dayang Sumbi mengajukan syarat: dalam satu malam sebelum fajar, Sangkuriang harus membendung Sungai Citarum menjadi danau dan membuat perahu besar untuk berlayar. Dengan kesaktiannya, Sangkuriang memanggil bangsa makhluk halus — dan pekerjaan mustahil itu nyaris selesai.
Melihat itu, Dayang Sumbi menebar kain boeh rarang hasil tenunannya yang memancarkan cahaya, membuat suasana terang seolah fajar tiba. Ayam-ayam berkokok, para makhluk halus kabur, dan pekerjaan pun terbengkalai.
Tendangan yang Jadi Gunung
Sadar dirinya digagalkan, Sangkuriang mengamuk. Bendungan dijebol — airnya konon menjadi asal Danau Bandung purba — dan perahu raksasa yang hampir jadi itu ditendangnya hingga terlempar dan jatuh telungkup. Perahu telungkup itulah yang dipercaya menjadi Gunung Tangkuban Perahu, yang dalam bahasa Sunda memang berarti "perahu yang terbalik".
Legenda yang Menjaga Ingatan Geologi
Menariknya, para ahli geologi mencatat bahwa dataran Bandung memang dulunya danau purba raksasa yang kemudian surut. Artinya, legenda ini kemungkinan adalah cara leluhur Sunda merekam peristiwa alam nyata lewat cerita — arsip geologi yang dibungkus kisah cinta tragis, diwariskan ribuan tahun sebelum ada buku pelajaran. Kearifan macam ini yang bikin cerita rakyat nggak boleh hilang.
Ikuti rubrik Cerita Rakyat di Indonesia Banget buat legenda nusantara lainnya.
Posting Komentar