Legenda Roro Jonggrang: Seribu Candi yang Gagal Selesai Semalam
Kompleks Candi Prambanan. Foto: CEphoto, Uwe Aranas, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons
Candi Prambanan itu megah banget — candi Hindu terbesar di Indonesia, warisan dunia UNESCO. Tapi buat masyarakat Jawa, kemegahan itu datang dengan cerita yang bikin merinding: konon dia bagian dari seribu candi yang dibangun dalam satu malam — demi cinta yang ditolak.
Putri Prambanan dan Pangeran Penakluk
Alkisah, ada dua kerajaan bertetangga: Prambanan yang damai, dan Pengging yang perkasa. Pengging menyerbu, dan Prambanan jatuh. Sang penakluk, pangeran sakti bernama Bandung Bondowoso, terpikat pada putri kerajaan yang ditaklukkannya: Roro Jonggrang, si "gadis semampai" yang kecantikannya tersohor.
Posisi Roro Jonggrang serba salah: menolak berarti bahaya, menerima berarti menikahi orang yang menghancurkan kerajaannya — dalam banyak versi bahkan disebut menewaskan ayahnya. Maka dia memilih jalan ketiga: memberi syarat yang mustahil.
Seribu Candi Sebelum Fajar
Syaratnya: Bandung Bondowoso harus membangun seribu candi dalam satu malam. Sang pangeran menyanggupi — dia mengerahkan pasukan makhluk halus, dan candi demi candi berdiri dengan kecepatan yang mengerikan. Menjelang dini hari, sudah 999 candi yang selesai. Tinggal satu.
Roro Jonggrang nggak tinggal diam. Dia membangunkan para gadis desa untuk menumbuk padi dan membakar jerami di ufuk timur. Suara lesung bertalu-talu, langit memerah — ayam jantan pun berkokok, mengira fajar telah tiba. Para makhluk halus kabur ketakutan sebelum candi ke-1.000 selesai.
Kutukan Sang Pangeran
Bandung Bondowoso murka begitu tahu dirinya diakali. Dalam amarahnya, dia mengutuk Roro Jonggrang: "Jadilah kau arca!" Seketika sang putri membatu — dan konon, arca Durga yang berdiri di bilik utara candi utama Prambanan itulah perwujudan Roro Jonggrang, si candi ke-1.000 yang melengkapi hitungan.
Sampai sekarang, masyarakat sekitar masih sering menyebut Prambanan sebagai Candi Roro Jonggrang. Dan reruntuhan candi di dekatnya, Candi Sewu — yang artinya "seribu" — dianggap sisa-sisa proyek semalam itu, meski jumlah aslinya "cuma" 249 candi.
Antara Legenda dan Sejarah
Secara sejarah, Prambanan dibangun abad ke-9 di era Mataram Kuno — bukan dalam semalam, tentu. Tapi legenda ini menyimpan pesan yang tetap relevan: kecerdikan bisa mengalahkan kekuatan, dan cinta yang dipaksakan nggak akan pernah berakhir baik. Ditambah satu pelajaran khas cerita rakyat kita: kemegahan sebuah bangunan selalu lebih gampang diingat kalau ada kisah manusia di baliknya.
Ikuti rubrik Cerita Rakyat di Indonesia Banget buat legenda nusantara lainnya.
Posting Komentar