Legenda Gunung Bromo: Roro Anteng, Joko Seger, dan Janji di Balik Upacara Kasada
Gunung Bromo saat fajar, dengan Semeru di latar belakang. Foto: Thomas Hirsch, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons
Tiap tahun, ribuan masyarakat Tengger mendaki bibir kawah Bromo dan melemparkan hasil bumi — bahkan ternak — ke dalam kawah yang mengepul. Ritual ini bernama Yadnya Kasada, dan akarnya tertanam di sebuah legenda tentang pasangan suami istri, doa yang dikabulkan, dan janji yang harus dibayar.
Roro Anteng dan Joko Seger
Alkisah di kawasan pegunungan Tengger hiduplah pasangan yang dihormati: Roro Anteng, putri keturunan Majapahit, dan Joko Seger, pemuda keturunan brahmana. Dari gabungan nama merekalah — Tengger — nama kawasan dan masyarakatnya diyakini berasal. Mereka memimpin dengan bijak, hidup makmur, tapi satu hal tak kunjung datang: keturunan.
Doa di Puncak Bromo
Setelah bertahun menanti, keduanya bertapa dan memanjatkan doa kepada penguasa gunung. Doa itu dijawab: mereka akan dikaruniai 25 anak — jumlah yang luar biasa — dengan satu syarat yang berat: anak bungsu harus dipersembahkan kembali ke kawah Bromo.
Anak demi anak lahir, dan kebahagiaan membuat janji itu tersimpan rapat-rapat. Sampai akhirnya si bungsu, Raden Kusuma (dikenal juga sebagai Kesuma atau Dewa Kusuma), tumbuh jadi pemuda yang paling dikasihi.
Janji yang Ditagih
Alam mulai menagih: Bromo bergemuruh, api menyembur, bumi berguncang. Dalam banyak versi diceritakan, Raden Kusuma sendiri yang akhirnya mengetahui janji orang tuanya — dan dengan kebesaran hati memilih mengorbankan dirinya demi keselamatan keluarganya dan seluruh rakyat Tengger. Dari kawah, konon terdengar pesannya: dia rela, asal saudara-saudaranya dan keturunannya hidup damai — dan tiap tahun, di bulan Kasada, rakyat mengirimkan sebagian hasil bumi ke kawah sebagai pengganti dirinya.
Legenda yang Masih Dijalankan
Itulah yang membedakan legenda Bromo dari dongeng lain: dia nggak berhenti jadi cerita. Upacara Yadnya Kasada masih digelar masyarakat Tengger sampai hari ini, tiap bulan Kasada dalam penanggalan mereka — persembahan dilempar ke kawah, sebagian warga menunggu di lereng untuk "menangkap berkah". Wisatawan datang untuk sunrise-nya; orang Tengger datang untuk janjinya.
Terlepas dari kepercayaan di balik ritualnya, ada pelajaran yang bisa dipetik siapa pun dari kisah ini: janji itu berat dan harus ditepati, pengorbanan demi keluarga itu mulia, dan alam adalah titipan Tuhan yang wajib dirawat — bukan sekadar pemandangan. Nilai-nilai itulah yang dijaga masyarakat Tengger sampai ratusan tahun.
Ikuti rubrik Cerita Rakyat di Indonesia Banget buat legenda nusantara lainnya.
Posting Komentar