Kronologis Menuju Titik 0 INDONESIA MERDEKA | Bag.4

Daftar Isi

 "INI LEHERKU! POTONG SEKARANG JUGA!...TAK USAH MENUNGGU ESOK!!!" Bung Karno



Pukul 11.30 malam. Sekelompok anak muda bergegas ke luar rumah di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Mula-mula Chaerul Saleh dan Wikana. Lalu D.N. Aidit, Djohar Noer, Pardjono, Aboebakar, Soedewo, Armansjah, Soebadio Sastrosatomo, Soeroto, dan Joesoef Koento. Hari itu Rabu, 15 Agustus 1945.
Mereka adalah aktivis pemuda antifasis dari Asrama Menteng 31. Para pemuda itu baru saja mendesak Soekarno agar memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi Bung Karno menolak. Mohammad Hatta yang datang belakangan pun tak setuju dengan ide mereka.
Sesampainya dirumah bung Karno mereka menggedor rumah itu yang tentu saja mengagetkan empunya rumah.
Bung Karno baru saja terlelap namun terbangun karena rumahnya di gelar gedor para pemuda.
Bung Karno terkesiap melihat betapa ramai teras dan halaman rumahnya dengan anak anak muda ini...ia masih memandang keliling sambil masih bertanya dalam hati apa mau mereka.
Suara para pemuda itu saling sahut tak menentu, semua ingin berebut bicara sampai tiba tiba Chaerul Saleh maju mendekati Bung Karno dan dengan lantang berteriak.
"Diam!......biar saya bicara dengan Bung Karno dulu!", dan Riuh terhenti seketika.
Tiba tiba suasana jadi hening di tengah malam tanggal 15 Agustus 1945 itu.
"Sekarang, Bung! Malam ini juga kita kobarkan revolusi!", Chaerul Saleh menukas pada Bung Karno dengan suara yg pelan namun menahan emosi.
"Kalau Bung tidak mau mengumumkan proklamasi, besok akan terjadi pertumpahan darah!", sambung Wikana berapi-api nyaris berteriak.
Bung Karno yang awalnya diam walau dengan tangan terkepal menahan emosi yang mendidih di dadanya masih coba tenang.
Namun mendengar Wikana berteriak dengan emosi tak pelak bung Karno balik menggertak!.
"Ini batang leherku, Seret saya ke pojok itu dan potong malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!", berdentum suara bung Karno seraya mendekati Wikana.
Tiba tiba yg hadir hening! Kaget dan tak menyangka akan seperti itu jawaban Bung Karno. Wikana dan Chaerul Saleh pun menundukkan kepala...diam.
Akhirnya tak lama para pemuda ini bubar sambil marah marah tak karuan seperti di catat oleh Murad Aidit adik pemuda Aidit yang saat datang ke rumah Bang Karno memboncengi Wikana dengan sepeda.
Sebagaimana dicatat Hatta dan Sidik Kertapati-salah seorang tokoh 1945, juga oleh Soekarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat-terjadi pertengkaran hebat antara pihak pemuda dan Bung Karno pada malam itu. Inilah malam yang dikenang hingga kini karena berjasa mempercepat proklamasi.
Sudah lama para pemuda mendesak golongan tua agar memproklamasikan kemerdekaan. Soalnya, dari radio BBC, London, mereka mendengar kabar bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Mereka khawatir, Jepang akan mengembalikan Indonesia kepada Belanda. Golongan tua tak sependapat. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia memilih menunggu instruksi dari Jepang.
Setelah Bung Karno menolak, Kamis dini hari itu, para pemuda yang dipimpin oleh Soekarni nekat menjalankan rencana B, yakni menculik dan membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, Karawang.

Sumber buku Djakarta 1945
Awal Revolusi Kemerdekaan catatan Julius Pour
- Benny Rusmawan -

Posting Komentar