Kronologis Menuju Titik 0 INDONESIA MERDEKA | Bag.3

Daftar Isi

 SAAT SOEBIANTO MENGUMPAT BUNG HATTA !


Sore itu tanggal 15 Agustus 1945, selepas berbuka Bung Hatta baru saja selesai sholat Isya, ketika sang keponakan mengetuk kamar nya.
"Angku ada tamu di depan... Entah siapa".
Suara dari luar kamar Bung Hatta terdengar, Bung Hatta buru buru keluar kamar dan menemui tamu tamu yang dimaksud.
Bung Hatta mempersilahkan mereka duduk di bangku teras, lalu ia tersenyum pada anak sahabatnya Margono Djoyohadikoesomo si Soebianto sedang tamu yang satu lagi adalah Soebadio seorang tokoh pemuda prapatan Jakarta.
Tanpa basa basi kedua pemuda ini mendesak agar Bung Hatta meminta Bung Karno membacakan ikrar merdeka tanpa membawa organisasi PPKI!.
Bung Hatta menjawab desakan anak anak muda ini,
"Jepang dengan perantaraan Marsekal Terauchi telah mengakui kemerdekaan Indonesia, sedangkan pelaksanaanmya akan dilakukan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia di Pedjambon dalam pertemuan besok pagi (Kamis) pukul 10.00", tutur Bung Hatta dengan suara pelan namun pasti.
"Itu harus dihalangi!", teriak Soebianto dengan lantang. Bung Hatta dan Soebadio menoleh pada Soebianto, kaget mereka mendengar tukas anak muda itu..
Hatta langsung menjelaskan alasan mengapa Soekarno pasti tidak bisa dan tidak akan bersedia merampas hak Panitia Persiapan Kemerdekaan. Dia juga menerangkan bahwa dalam hal ini akan sama saja bila pernyataan kemerdekaan tersebut diucapkan oleh Soekarno sebagai pemimpin rakyat atau Soekarno sebagai Ketua PPKI emerdekaan. Sejak semula memang mereka telah bekerja sama dengan Jepang sehingga Belanda tetap akan menuduh mereka sebagai penghianat.
Bertiga mereka bertengkar mempermasalahkan lebih dari satu jam. Bung Hatta tetap mempermasalahkan reaksi anak anak muda yg tanpa pikir panjang sedang Bung Hatta lebih yakin pendekatan rasional akan lebih baik.
Sampai akhirnya kedua anak muda ini pamit namun sempat mengumpat pada Bung Hatta.
"Pada saat revolusi datang, ternyata kami tidak bisa membawa Bung Hatta!.. Bung bukan seorang revolusioner!, ujar Soebadio seraya berdiri dan berdua mereka pamit.
Sedang Soebianto mungkin sedang emosi malah tak mau menyalami tangan Bung Hatta dan sebelum berjalan keluar teras.
"Ternyata Bung tak bisa diharapkan memimpin Revolusi!", ujar Soebianto berujar dengan muka dingin dan langsung melengos berjalan keluar diikuti Soebadio.



Bung Hatta sendiri hanya bisa menghela napas melihat kepergian kedua anak muda itu.
Jam, menit dan detik berikutnya keadaan berubah cepat Esok nya kisah Rengasdengklok di mulai.

Posting Komentar