KH Hasyim Asy'ari: Mahaguru Pendiri NU dan Resolusi Jihad 1945

KH Hasyim Asy'ari. Sumber: domain publik, via Wikimedia Commons
Di balik berdirinya ormas Islam terbesar di dunia dan salah satu fatwa paling menentukan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, ada satu nama: KH Hasyim Asy'ari — ulama besar dari Jombang yang oleh santri-santrinya dijuluki Hadratussyaikh, sang mahaguru.
Santri Kelana dari Jombang
Lahir di Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871, Hasyim muda tumbuh di lingkungan pesantren. Sejak belasan tahun dia berkelana dari pesantren ke pesantren menimba ilmu, lalu melanjutkan belajar ke Makkah selama bertahun-tahun — berguru pada ulama-ulama besar, termasuk Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, ahli hadits asal Pacitan yang mengajar di Masjidil Haram. Pulang ke tanah air, tahun 1899 dia mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, yang berkembang jadi salah satu pesantren paling berpengaruh di Jawa.
Mendirikan Nahdlatul Ulama
Tanggal 31 Januari 1926, bersama para kiai pesantren, KH Hasyim Asy'ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) — "kebangkitan para ulama". Tujuannya menjaga tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah sekaligus membela kepentingan umat. Dari Tebuireng, NU tumbuh jadi organisasi Islam dengan puluhan juta anggota — terbesar bukan cuma di Indonesia, tapi di dunia.
Resolusi Jihad: Fatwa yang Menggerakkan Surabaya
Momen paling bersejarah datang setelah proklamasi. Tanggal 22 Oktober 1945, ketika pasukan Sekutu mendekat ke Surabaya, KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama NU mengeluarkan Resolusi Jihad: membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu 'ain — wajib bagi setiap Muslim dalam jarak tertentu dari medan perang. Fatwa ini membakar semangat santri dan arek-arek Suroboyo, yang puncaknya meledak dalam pertempuran 10 November 1945 — hari yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Tanggal 22 Oktober pun kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Wafat di Tengah Perjuangan
KH Hasyim Asy'ari wafat 25 Juli 1947, tak lama setelah menerima kabar Agresi Militer Belanda dan jatuhnya korban di Singosari. Sampai akhir hayat, pikirannya nggak pernah lepas dari nasib umat dan negerinya. Tahun 1964 dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Dari beliau kita belajar: ilmu dan iman itu satu paket dengan cinta tanah air — dan ulama sejati berdiri paling depan saat negerinya terancam.
Ikuti rubrik Tokoh di Indonesia Banget untuk kisah pahlawan lainnya.
Posting Komentar