Haji Agus Salim: Diplomat 9 Bahasa yang Memimpin Itu Menderita

Daftar Isi
Haji Agus Salim

Haji Agus Salim. Sumber: domain publik, via Wikimedia Commons

Bayangin diplomat yang menguasai sekitar sembilan bahasa, bisa bikin forum internasional terpingkal sekaligus terpana, tapi di rumah hidupnya sesederhana rakyat kebanyakan. Itulah Haji Agus Salim — "The Grand Old Man" alias orang tua besar diplomasi Indonesia.

Anak Minang Jenius dari Koto Gadang

Lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884, dengan nama Masyhudul Haq, Agus Salim lulus sekolah Belanda HBS di Batavia sebagai salah satu yang terbaik. Otaknya luar biasa: belasan bahasa dia kuasai secara otodidak — dari Belanda, Inggris, Arab, Turki, sampai Jepang. Dia sempat bekerja di konsulat Belanda di Jeddah, dan di sanalah dia memperdalam ilmu agama sambil menunaikan haji. Pamannya di Makkah bukan orang sembarangan: Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, imam Masjidil Haram asal Minang.

Guru Bangsa di Sarekat Islam

Pulang ke tanah air, Agus Salim terjun ke pergerakan lewat Sarekat Islam bersama HOS Tjokroaminoto. Dari mimbar SI dan tulisan-tulisannya, dia mendidik generasi muda tentang Islam dan kebangsaan. Lidahnya setajam penanya — debat-debatnya legendaris, tapi selalu berkelas: melawan argumen dengan argumen, bukan dengan caci maki.

Diplomat Ulung Pembuka Pengakuan Dunia

Setelah proklamasi, kemampuan bahasanya jadi senjata republik. Sebagai diplomat lalu Menteri Luar Negeri, Agus Salim memimpin misi ke Timur Tengah tahun 1947 — dan berhasil: Mesir jadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia, disusul Suriah, Lebanon, dan negara Arab lainnya. Pengakuan internasional ini krusial banget buat republik muda yang sedang digempur Belanda. Ikatan iman dan persaudaraan Islam jadi salah satu pintu masuknya.

Cerdas Boleh, Sombong Jangan

Yang bikin Agus Salim dikenang bukan cuma otaknya, tapi kesederhanaannya. Mantan menteri ini nggak punya rumah pribadi — ngontrak pindah-pindah di gang sempit, kadang tidurnya cuma beralas tikar. Tapi dari rumah kontrakan itu lahir pemikiran besar dan anak-anak didik bangsa. Dia wafat 4 November 1954 dan dimakamkan di Kalibata; tahun 1961 ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Prinsip hidupnya terkenal: leiden is lijden — memimpin itu menderita. Jabatan bukan buat memperkaya diri, tapi amanah untuk melayani. Pesan yang rasanya makin relevan buat zaman sekarang.

Ikuti rubrik Tokoh di Indonesia Banget untuk kisah pahlawan lainnya.

Posting Komentar