Gotong Royong: Satu Nilai, Seribu Nama dari Sabang sampai Merauke

Daftar Isi
Warga bergotong royong kerja bakti membersihkan sungai

Warga bergotong royong membersihkan sungai. Foto: ERWINSALEH, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Pernah ikut kerja bakti bersihin selokan kompleks? Atau bantuin tetangga yang lagi hajatan tanpa dibayar? Selamat — lo baru aja ngejalanin salah satu warisan budaya paling tua dan paling berharga milik bangsa ini: gotong royong.

Bukan Sekadar Kerja Bareng

Secara sederhana, gotong royong artinya bekerja bersama-sama buat kepentingan bersama, tanpa hitung-hitungan upah. Tapi maknanya lebih dalam dari itu: ada prinsip bahwa beban satu orang adalah beban semua, dan rezeki komunitas adalah rezeki bersama. Dalam masyarakat agraris nusantara dulu, hampir semua urusan besar — nanam padi, bangun rumah, hajatan, sampai urusan kematian — diselesaikan rame-rame.

Satu Nilai, Seribu Nama

Yang bikin keren: nilai yang sama ini punya nama sendiri-sendiri di hampir tiap daerah. Beberapa contohnya:

  • Sambatan (Jawa) — warga datang membantu tetangga yang lagi punya gawe atau bangun rumah, cukup "disambat" alias dimintai tolong.
  • Ngayah (Bali) — kerja sukarela untuk banjar atau pura, dijalankan sebagai bagian dari kewajiban sosial dan spiritual.
  • Mapalus (Minahasa, Sulawesi Utara) — sistem kerja bergilir: hari ini semua garap ladang si A, besok ladang si B, begitu seterusnya.
  • Masohi (Maluku) — bergotong royong membangun rumah atau fasilitas kampung, sampai diabadikan jadi nama ibu kota Maluku Tengah.

Dan masih banyak lagi istilah serupa di daerah lain — daftar ini nggak akan ada habisnya. Nama boleh beda-beda, isinya sama: nggak ada beban yang terlalu berat kalau dipikul bersama.

Diangkat Jadi Jiwa Bangsa

Nilai ini dianggap begitu mendasar sampai para pendiri bangsa menempatkannya di jantung ideologi negara. Dalam pidato 1 Juni 1945 yang kelak dikenal sebagai hari lahir Pancasila, Bung Karno mengingatkan bahwa kalau lima sila diperas jadi satu inti sari, ketemunya ya gotong royong itu — negara yang dibangun atas semangat semua buat semua, keringat bersama untuk kebahagiaan bersama.

Gotong Royong Zaman Sekarang

Ada yang bilang gotong royong mulai luntur di kota besar. Tapi coba perhatiin lagi: ronda malam, rewang pas tetangga hajatan, patungan warga benerin jalan kampung, sampai galang dana online yang bisa ngumpulin miliaran rupiah buat orang yang nggak kita kenal — itu semua gotong royong, cuma ganti baju. Teknologinya baru, refleksnya tetap refleks warga +62.

Justru di zaman yang makin individualis, kearifan satu ini jadi pembeda kita: bangsa yang dari dulu percaya bahwa jalan paling cepat buat bangkit adalah bareng-bareng.

Ikuti rubrik Kearifan Lokal di Indonesia Banget buat filosofi dan tradisi nusantara lainnya.

Posting Komentar