Bung Tomo: Suara yang Membakar Semangat 10 November
Bung Tomo dalam foto ikoniknya saat berorasi. Sumber: domain publik, via Wikimedia Commons
Ada orang yang berjuang dengan senjata, ada yang berjuang dengan suara. Sutomo — akrab dipanggil Bung Tomo — melakukan keduanya. Lewat corong radio, pemuda Surabaya berusia 25 tahun ini membakar semangat satu kota untuk berdiri melawan pasukan pemenang Perang Dunia II. Hasilnya: pertempuran yang kita kenang setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan.
Jurnalis yang Jadi Corong Perjuangan
Lahir di Surabaya tahun 1920, Sutomo muda bekerja sebagai wartawan — profesi yang mengasah dua senjatanya: kata-kata dan keberanian. Ketika proklamasi dikumandangkan dan Surabaya bergolak, dia mendirikan Radio Pemberontakan — corong perlawanan arek-arek Suroboyo. Dari sinilah suaranya yang khas — menggelegar, penuh keyakinan — masuk ke rumah-rumah dan menyalakan nyali rakyat.
Oktober–November 1945: Surabaya Mendidih
Pasukan Sekutu mendarat di Surabaya, dan ketegangan pecah jadi pertempuran. Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby membuat Inggris mengeluarkan ultimatum yang menghina: semua pejuang harus menyerahkan senjata dan menyerah tanpa syarat sebelum 10 November 1945 — atau Surabaya digempur dari darat, laut, dan udara.
Rakyat Surabaya memilih jawaban mereka lewat suara Bung Tomo di radio. Dalam orasinya yang legendaris, dia menyerukan agar rakyat nggak menyerah, lebih baik hancur daripada dijajah kembali — orasi yang dibuka dan ditutup dengan pekik yang jadi identitasnya: "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Semangat juang dan iman menyatu dalam satu tarikan napas.
Tiga Minggu yang Mengguncang Dunia
10 November 1945, gempuran dimulai. Di atas kertas, pertempuran ini nggak seimbang: rakyat bersenjata seadanya melawan tentara profesional. Tapi Surabaya bertahan sampai sekitar tiga minggu — perlawanan yang menelan ribuan syuhada dan membuat dunia tercengang: bangsa yang baru tiga bulan merdeka ini ternyata siap mati untuk kemerdekaannya. Peristiwa ini membuka mata internasional bahwa Indonesia bukan sekadar "gerombolan", tapi bangsa yang bersatu.
Warisan Sang Orator
Bung Tomo melanjutkan pengabdiannya setelah revolusi — sempat jadi menteri, lalu jadi kritikus yang vokal terhadap kekuasaan, sampai pernah ditahan karena keberaniannya bersuara. Dia wafat tahun 1981 di Padang Arafah, saat menunaikan ibadah haji — penutup hidup yang menyentuh untuk orang yang sepanjang hayatnya meneriakkan takbir. Gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan padanya tahun 2008.
Dari Bung Tomo kita belajar: keberanian itu menular, dan kata-kata yang keluar dari iman serta keikhlasan bisa lebih kuat dari meriam. Merdeka bukan cuma direbut dengan senjata — tapi dengan keyakinan bahwa perjuangan yang benar nggak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.
Ikuti rubrik Tokoh di Indonesia Banget untuk kisah pahlawan lainnya.
Posting Komentar