Asal-Usul Nama Yogyakarta: Kota yang Dinamai dari Ayodhya, Negerinya Rama
Tugu Yogyakarta, ikon kota pelajar. Foto: CEphoto, Uwe Aranas, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons
Jogja itu istimewa — semua orang setuju. Tapi tahukah lo kalau keistimewaannya dimulai bahkan dari namanya? "Yogyakarta" bukan sekadar nama tempat: dia doa, cita-cita, sekaligus hasil dari salah satu drama politik terbesar dalam sejarah Jawa.
Perjanjian yang Membelah Mataram
Cerita ini bermula dari Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755. Setelah bertahun-tahun konflik internal ditambah campur tangan VOC, Kesultanan Mataram resmi dibagi dua: Kasunanan Surakarta di bawah Pakubuwono III, dan sebuah kesultanan baru untuk Pangeran Mangkubumi — yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Sang Sultan lalu membangun ibu kota kerajaannya di kawasan Hutan Beringan, dan memberi nama kerajaannya: Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari nama inilah "Yogyakarta" berasal.
Dari Ayodhya, Negeri Sang Rama
Nah, ini bagian paling menariknya. Nama Ngayogyakarta diyakini diturunkan dari Ayodhya — kota kerajaan Sri Rama dalam epos Ramayana, yang dalam bahasa Sanskerta bermakna kurang lebih "yang layak" atau "yang tak terkalahkan". Ditambah kata karta yang berarti makmur atau sejahtera. Jadi kalau dirangkai, Ngayogyakarta Hadiningrat kira-kira bermakna: kota yang layak dan makmur, teladan keindahan semesta.
Namanya aja udah level doa. Para pendirinya nggak cuma bangun kota — mereka menanamkan visi lewat nama: tempat yang pantas, sejahtera, dan jadi panutan.
Kota Sumbu Filosofi
Visi itu nggak berhenti di nama. Tata kota Jogja dirancang dengan sumbu filosofis: garis imajiner lurus dari Panggung Krapyak, melewati Kraton dan Tugu, mengarah ke Gunung Merapi — melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai menghadap Sang Pencipta. Sumbu filosofi ini bahkan diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2023. Sekali lagi: kota ini dibangun sebagai filosofi yang bisa dihuni.
Jogja, Yogya, Ngayogyakarta
Soal ejaan — Yogyakarta, Jogjakarta, Jogja, Yogya — semuanya merujuk kota yang sama. Ejaan lama zaman Belanda menulis "Jogjakarta", ejaan resmi sekarang "Yogyakarta", dan lidah kita nyamannya bilang "Jogja". Mau ditulis gimana pun, rasanya tetap sama: istimewa.
Dan status istimewa itu bukan basa-basi: berkat peran besarnya dalam revolusi kemerdekaan — termasuk pernah jadi ibu kota republik — Yogyakarta sampai sekarang menyandang status Daerah Istimewa, satu-satunya provinsi yang gubernurnya adalah Sultan yang bertakhta.
Suka cerita begini? Ikuti terus rubrik Asal-Usul di Indonesia Banget.
Posting Komentar