Asal-Usul Nama Jakarta: Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, sampai Batavia

Daftar Isi
Lukisan Kastil Batavia abad ke-17

Kastil Batavia dalam lukisan Andries Beeckman, sekitar 1661. Sumber: domain publik, via Wikimedia Commons

Sebelum jadi ibu kota yang macetnya legendaris, Jakarta udah empat kali ganti nama. Tiap namanya nyimpen cerita perebutan kekuasaan, dendam, dan kemenangan. Yuk kita urut dari awal.

Sunda Kelapa: Pelabuhan Lada yang Diperebutkan

Cerita dimulai dari sebuah pelabuhan milik Kerajaan Sunda bernama Sunda Kelapa, di muara Sungai Ciliwung. Pelabuhan ini ramai banget — kapal-kapal dari berbagai penjuru datang buat berdagang, terutama lada. Saking strategisnya, Portugis yang baru menguasai Malaka pun tertarik dan bikin perjanjian dagang dengan Kerajaan Sunda.

22 Juni 1527: Lahirnya Jayakarta

Rencana Portugis itu nggak pernah kesampaian. Pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah menyerang dan merebut Sunda Kelapa. Tanggal kemenangan itu — 22 Juni 1527 — dipilih jadi momen penggantian nama menjadi Jayakarta, yang artinya "kota kemenangan" atau "kemenangan yang sempurna". Makanya sampai sekarang tanggal 22 Juni diperingati sebagai HUT Jakarta.

1619: Batavia, Kota Impian Kompeni

Hampir seabad kemudian, giliran Belanda datang. Tahun 1619, pasukan VOC di bawah Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta sampai rata, lalu membangun kota baru bergaya Eropa di atasnya: Batavia. Nama ini diambil dari Batavieren, suku Germanik yang dianggap leluhur bangsa Belanda. Selama lebih dari 300 tahun, Batavia jadi pusat kekuasaan kolonial di Nusantara.

Dari nama Batavia inilah lahir sebutan buat penduduk aslinya: orang Betawi — pelafalan lokal dari "Batavia". Jadi kalau lo orang Betawi, nama identitas lo literally warisan zaman kompeni yang diambil alih dan dibikin jadi kebanggaan sendiri.

1942: Kembali Jadi Jakarta

Waktu Jepang masuk tahun 1942, nama Batavia dihapus — dianggap terlalu berbau kolonial Belanda. Kota ini dinamai ulang Jakarta, bentuk ringkas dari Jayakarta. Setelah kemerdekaan, nama itu dipertahankan, dan sisanya adalah sejarah: Jakarta tumbuh jadi megapolitan belasan juta jiwa yang kita kenal sekarang.

Empat Nama, Satu Kota

Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, Jakarta — empat nama yang ngerekam empat babak: era kerajaan, era kemenangan, era kolonial, dan era kemerdekaan. Kota ini bukan cuma tempat, tapi arsip hidup perjalanan bangsa.

Suka cerita begini? Ikuti terus rubrik Asal-Usul di Indonesia Banget.

Posting Komentar