Asal-Usul Nama Bekasi: Jejak Chandrabhaga, Sungai Bulan dari Zaman Tarumanagara

Daftar Isi
Hulu Kali Bekasi dalam peta tahun 1901

Hulu Kali Bekasi dalam peta tahun 1901. Sumber: Topographisch Bureau (Batavia), CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Bekasi sering banget jadi bahan meme — katanya jauh, katanya planet sendiri. Padahal kalau bicara sejarah, Bekasi justru salah satu wilayah dengan akar paling tua di Indonesia. Namanya sendiri berumur lebih dari 1.500 tahun, dan berawal dari sebuah sungai yang dinamai dengan sangat puitis: sungai bulan.

Dimulai dari Prasasti Tugu

Jejak tertulis paling awal datang dari Prasasti Tugu, peninggalan Kerajaan Tarumanagara di era Raja Purnawarman sekitar abad ke-5 Masehi. Prasasti itu bercerita tentang proyek besar sang raja: penggalian sungai untuk mengendalikan banjir dan mengairi wilayah kerajaan — proyek infrastruktur air tertua yang tercatat di nusantara. Salah satu sungai yang disebut bernama Chandrabhaga.

Menariknya lagi: masalah yang diurus Purnawarman 1.500 tahun lalu — banjir — masih akrab banget sama warga Bekasi dan Jakarta sampai sekarang. Ada hal-hal yang memang nggak berubah.

Dari Chandrabhaga ke Bekasi

Nah, dari mana "Bekasi"-nya? Para ahli, termasuk sejarawan dan arkeolog yang meneliti prasasti ini, umumnya menjelaskan begini: chandra dalam bahasa Sanskerta artinya bulan, dan bhaga kurang lebih berarti bagian atau wilayah. Kata chandra punya padanan dalam bahasa Jawa Kuno: sasi, yang juga berarti bulan. Maka Chandrabhaga lambat laun dikenal sebagai Bhagasasi atau Bagasasi.

Dari Bhagasasi, lidah orang menyingkatnya jadi Bhagasi. Ketika era kolonial datang, orang Belanda menuliskannya Bacassie — ejaan yang masih bisa lo temukan di dokumen-dokumen lama. Dan dari Bacassie, jadilah nama yang kita kenal sekarang: Bekasi. Satu nama yang menempuh perjalanan dari bahasa Sanskerta, Jawa Kuno, sampai ejaan Belanda — sebelum akhirnya pulang ke lidah Betawi.

Sungai yang Masih Mengalir

Warisan itu nggak cuma tinggal di nama. Kali Bekasi masih mengalir membelah kota sampai hari ini — sungai yang sama yang dulu jadi urat nadi peradaban Tarumanagara, jalur perdagangan, sekaligus saksi perlawanan rakyat Bekasi di masa revolusi kemerdekaan. Ya, Bekasi yang suka dibecandain itu adalah tanah para pejuang — sampai diabadikan Chairil Anwar lewat puisi tentang pertempuran Krawang-Bekasi.

Planet Bekasi? Justru Bangga

Jadi kalau ada yang bilang Bekasi itu "planet lain", santai aja. Nggak banyak kota di Indonesia yang namanya tercatat sejak abad ke-5, lahir dari sungai bulan, dan jadi panggung sejarah dari era Purnawarman sampai revolusi. Umur nama Jakarta aja masih kalah jauh. Warga Bekasi boleh angkat dagu.

Suka cerita begini? Ikuti terus rubrik Asal-Usul di Indonesia Banget.

Posting Komentar