Asal-Usul Bendera Merah Putih: Kenapa Warnanya Cuma Dua?

Daftar Isi
Bendera Merah Putih berkibar di puncak Gunung Cikuray

Merah Putih di puncak Gunung Cikuray. Foto: Arifedisant, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Di antara bendera-bendera dunia yang rame dengan bintang, elang, dan garis-garis, bendera kita cuma dua blok warna: merah di atas, putih di bawah. Sederhana banget — tapi justru di kesederhanaan itu tersimpan cerita ratusan tahun.

Merah Berani, Putih Suci

Makna yang paling sering kita dengar sejak SD: merah artinya berani, putih artinya suci. Tapi ada tafsir yang lebih tua dan lebih dalam dari budaya nusantara: merah melambangkan getih (darah) dan putih melambangkan getah — dua unsur kehidupan. Merah juga dikaitkan dengan bumi dan raga, putih dengan langit dan jiwa. Dua warna ini dipandang sebagai pasangan yang menghidupkan: jasmani dan rohani, manusia dan penciptanya.

Jejak dari Zaman Kerajaan

Pasangan merah-putih bukan barang baru di nusantara. Kombinasi warna ini sudah dikenal di era kerajaan — yang paling sering disebut adalah Majapahit, yang menggunakan panji-panji berwarna merah dan putih. Di Jawa juga dikenal simbol gula kelapa: gula aren yang merah dan kelapa yang putih, dipakai untuk menyebut pasangan warna ini. Artinya, jauh sebelum Indonesia lahir, merah-putih sudah hidup di alam pikiran orang nusantara.

Jadi Simbol Perlawanan

Awal abad ke-20, kaum pergerakan mengangkat kembali merah-putih sebagai simbol identitas. Bendera ini berkibar di Kongres Pemuda II tahun 1928 — momen Sumpah Pemuda — dan sejak itu makin lekat sebagai lambang bangsa yang mau merdeka. Saking kuatnya simbol ini, pemerintah kolonial sempat memandangnya sebagai ancaman.

Sang Saka Jahitan Tangan Fatmawati

Menjelang proklamasi, Ibu Fatmawati — istri Bung Karno — menjahit sendiri bendera merah putih berukuran besar. Bendera jahitan tangan itulah yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, dengan pengibar Latief Hendraningrat dan Suhud. Bendera itu kemudian dikenal sebagai Sang Saka Merah Putih alias Bendera Pusaka.

Karena usianya yang makin rapuh, Bendera Pusaka terakhir dikibarkan tahun 1968. Setelah itu dia disimpan dan dirawat sebagai benda pusaka negara, sementara yang berkibar tiap 17-an di Istana adalah duplikatnya.

Sederhana Tapi Sarat Makna

Jadi kalau ada yang nanya kenapa bendera kita "cuma" dua warna — jawabannya: karena dua warna itu udah cukup buat ngerangkum semuanya. Darah dan jiwa, bumi dan langit, keberanian dan kesucian, plus jejak sejarah dari Majapahit sampai Pegangsaan Timur. Nggak butuh ornamen tambahan.

Suka cerita begini? Ikuti terus rubrik Asal-Usul di Indonesia Banget.

Posting Komentar