Asal-Usul Angklung: Bambu yang Digoyang Sampai ke Panggung Dunia
Pertunjukan angklung di Saung Angklung Udjo, Bandung. Foto: Irhanz, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Cuma tabung bambu yang diikat di rangka, terus digoyang. Sesederhana itu — tapi alat musik ini bisa bikin satu gedung konser di luar negeri ikut main musik bareng dalam lima menit. Kenalin: angklung, bunyi bambu dari tanah Sunda yang sekarang jadi milik dunia.
Lahir dari Sawah, Bukan Panggung
Angklung tumbuh dari kebudayaan agraris masyarakat Sunda. Pada mulanya, bunyi-bunyian bambu ini bagian dari ritual pertanian — dimainkan untuk menghormati Nyai Sri Pohaci (Dewi Sri), sang dewi padi, dan mengiringi upacara dari masa tanam sampai panen. Jadi angklung tua bukan hiburan, tapi doa: bunyi yang dipercaya mengundang berkah buat sawah dan kampung.
Beberapa jenis angklung tradisi tertua — kayak angklung buhun di Kanekes (Baduy) — sampai sekarang masih dimainkan dalam upacara adat, bukan buat tontonan.
Cara Kerjanya Simpel Tapi Jenius
Satu angklung terdiri dari dua-tiga tabung bambu yang disetel ke satu nada. Digoyang, tabungnya beradu, keluarlah bunyi yang khas: getar bambu yang hangat. Nah, karena satu angklung cuma punya satu nada, mainnya harus rame-rame — satu orang satu nada, kayak paduan suara tapi versi bambu. Di sinilah filosofinya: angklung memaksa orang bekerja sama. Nggak ada satu pemain pun yang bisa bawain lagu sendirian.
Revolusi Pak Daeng
Titik balik besar datang dari seorang guru bernama Daeng Soetigna. Sekitar tahun 1938, beliau menciptakan angklung bertangga nada diatonis — do-re-mi seperti musik modern — dari yang sebelumnya pentatonis khas tradisi Sunda. Sejak itu angklung bisa memainkan lagu apa aja: lagu nasional, klasik, sampai pop. Angklung diatonis ini kemudian dikenal sebagai angklung padaeng, menghormati penciptanya.
Murid beliau, Udjo Ngalagena, melanjutkan misi ini dengan mendirikan Saung Angklung Udjo di Bandung tahun 1966 — tempat yang sampai sekarang jadi rumah angklung: sanggar, bengkel produksi, sekaligus panggung pertunjukan yang ditonton wisatawan dari seluruh dunia.
16 November 2010: Jadi Warisan Dunia
Perjalanan panjang itu mencapai puncaknya waktu UNESCO menetapkan angklung Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 16 November 2010. Tanggal itu kini diperingati sebagai Hari Angklung Sedunia — dan tiap tahunnya, Google Doodle sampai konser massal ikut merayakannya.
Dari sawah ke panggung dunia — angklung ngebuktiin satu hal: warisan leluhur nggak harus jadi pajangan museum. Dia bisa terus hidup, asal ada yang mau menggoyangnya.
Suka cerita begini? Ikuti terus rubrik Asal-Usul di Indonesia Banget.
Posting Komentar